Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Menopause’ Category

Aktivitas seksual merupakan salah satu cara menciptakan hubungan yang harmonis dengan pasangan. Namun, pada sebagian perempuan yang menjelang maupun telah menopause, hal itu justru menjadi momok lantaran gairah seksual menurun dan muncul rasa nyeri ketika berhubungan dengan pasangannya.

Ny E (50), misalnya, mengaku akhir-akhir ini sering didera rasa takut setiap kali suaminya pulang ke rumah seusai bekerja. Sebab, suaminya itu tipikal pria dengan libido tinggi kendati usianya telah paruh baya. “Saya benar-benar takut kalau ia minta berhubungan intim. Soalnya, hampir tiap hari ia ingin melakukannya,” tuturnya. Padahal, sebelumnya ia justru merasa senang bisa beraktivitas seksual dengan suaminya sesering mungkin. “Enggak tahu kenapa, akhir-akhir ini saya kok kurang memiliki gairah seksual. Suami saya bilang, itu tandanya saya mau menopause. Rasanya mau nangis saja waktu dibilang begitu,” kata Ny E dalam suatu kesempatan. Hal ini berbeda dengan Ny Suci (55), warga Depok. Di usia senja, ia masih bisa menikmati aktivitas seksual bersama suaminya. “Gairah seksual saya memang sudah menurun dibandingkan waktu masih muda. Tapi saya tetap bisa menikmati hubungan intim dengan suami meskipun tidak sesering dulu. Yang penting, kan, sentuhan dan perhatian dari pasangan,” tuturnya.

Libido turun

Menopause dianggap sebagian masyarakat sebagai awal dari kemunduran fungsi kewanitaan secara keseluruhan. Bahkan, ada yang menganggap menopause sebagai “bencana” di usia senja. Banyak perempuan menopause merasa menjadi tua, yang diasosiasikan dengan ketidakmenarikan dan kehilangan hasrat seksual. “Tidak benar jika dikatakan hasrat seksual menurun secara permanen setelah perempuan memasuki masa menopause,” kata Suhartono, dokter spesialis kandungan dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/Rumah Sakit Dr Soetomo, Surabaya, dalam seminar untuk memperingati Hari Menopause Sedunia, 18 Oktober lalu. Bagi sebagian perempuan, menopause telah menurunkan aktivitas seksual seiring berkurangnya hormon estrogen. Studi yang dilakukan Duke University, AS, pada tahun 1999, menunjukkan bahwa tidak semua perempuan menopause mengalami penurunan hasrat seksual. 39 persen dari perempuan berusia 61-65 tahun memiliki aktivitas seksual seperti 27 persen perempuan usia 66-71 tahun. Sebanyak 13 persen perempuan menopause dilaporkan memiliki hasrat seksual lebih tinggi dibandingkan ketika mereka masih muda. Mayoritas perempuan dalam studi itu yang mengaku kurang memiliki aktivitas seksual ternyata sebenarnya belum kehilangan hasrat seksual. “Hasrat seksual pada perempuan menopause selalu ada, tetapi badannya tidak mampu melakukannya tiap hari,” ujar Suhartono. Libido perempuan, lanjut Suhartono, terkait dengan fungsi reproduksi. Ketika memasuki masa menopause, sebagian perempuan mengeluhkan vagina kering, sering buang air kecil, terjadi infeksi dan iritasi pada alat kelamin, serta merasa nyeri saat berhubungan intim. “Suatu kenyataan bahwa gejala menopause dapat mengganggu kehidupan seks,” tuturnya. Selama menopause, kata Suhartono, setiap perempuan selalu mempunyai pengalaman seksual yang berbeda sebab manusia merupakan individu yang unik. Karena itu, tidak ada dua wanita yang menunjukkan reaksi sama saat berhubungan intim. Hal ini harus dipahami dengan baik oleh pasangannya dalam berhubungan intim. “Gangguan fungsi seksual pada perempuan menopause ternyata terkait dengan faktor psikologis dan sosiokultural. Karena itu, aktivitas seksual sebaiknya tidak sebatas berhubungan fisik, tapi perlu diciptakan suasana romantis,” ujarnya. Hal ini harus disertai konseling, mengonsumsi makanan dengan menu seimbang dan berolahraga secara teratur agar tetap bugar. Chrisdiono M Achadiat, juga dokter spesialis kandungan, dalam sebuah artikel di Kompas menyebutkan, kelainan dalam fungsi seksual yang terjadi pada menopause ternyata tidak ikut tertanggulangi oleh terapi sulih hormon. Gangguan fungsi seksual ini ditandai oleh hilangnya dorongan seksual (libido) pada seorang perempuan menopause dan kemampuannya mencapai orgasme. Dalam New England Jornal of Medicine dibahas, hormon testosteron ternyata dapat memperbaiki fungsi seksual sekaligus meningkatkan kondisi psikis pada para wanita yang telah menjalani operasi pengangkatan kedua indung telurnya. “Ini model paling ideal untuk penelitian menopause. Sebab, segala dampak pengangkatan kedua indung telur persis dengan menopause,” tulis Chrisdiono. Oleh karena itu, penurunan fungsi seksual pada perempuan menopause tidak dapat dipulihkan apabila terapi hormon tidak disertai pemberian testosteron. Indikator perbaikan libido itu, antara lain, bisa di-“baca” dari frekuensi senggama setiap minggunya, serta meningkatnya kemampuan dan frekuensi orgasme pada perempuan yang memperoleh estrogen disertai testosteron dibandingkan yang hanya mendapat estrogen.

Dengan demikian, menopause bukan berarti “bencana” di usia senja. Menopause justru harus dipandang sebagai saat untuk menikmati keharmonisan rumah tangga dengan beraktivitas seksual tanpa takut akan hamil tanpa dikehendaki. ****


Evy Rachmawati

Read Full Post »

PENUAAN pada kaum pria yang ditandai dengan menurunnya kadar hormon testoteron, kemampuan seksual, dan kemampuan fisik lainnya dapat diatasi dengan mengubah pola hidup lebih sehat dan pemberian obat untuk peremajaan, termasuk kemampuan seksualnya. Demikian disampaikan androlog, Prof Dr dr Susilo Wibowo M.Ed, Sp. And, menjelang pngukuhan dirinya sebagai guru besar biologi kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Kamis (4/7). Ia mengatakan, berdasarkan penelitian terhadap 290 pasien dengan sindrome PADAM (partial androgen deficiency in aging male) atau andropause (untuk wanita disebut menopause – red) menunjukkan hasil cukup memuaskan. Penelitian ini dilakukan di Semarang pada 1999 hingga Maret 2001. Temuannya itu sudah mendapat pangakuan androlog dari luar negeri. “Bahkan paman saya yang sebelumnya pakai tongkat ketika berjalan dan sering mengeluh sakit, setelah menjalani terapi dan metode baru pengobatan kini sudah bisa berjalan normal, bahkan bisa menyetir mobil sendiri dalam perjalanan jauh. Kemampuan seksualnya juga membaik,” katanya. Guna memperlambat penuaan dan mencegah PADAM, langkah yang ditempuh adalah dengan mengutamakan keselamatan kerja, cegah kontak langsung dengan bahan kimia agar tidak terjadi umpan balik negatif dalam produksi hormon testoteron. Polusi udara, air dan suara harus dikurangi serta memperbaiki mutu lingkungan di perumahan. Ia juga menyarankan mengurangi kontak langsung dengan sinar matahari, mengurangi stres. Ia mengingatkan, pria agar tetap lebih awet muda supaya menjaga kebugaran tubuh dengan olah raga, menghindari makanan dengan bahan pengawet, makan dalam jumlah cukup. Sikap ini bisa meningkatkan hormon GH dan IGF-1. “Batasi kalori makanan 30-50% dari keinginan normal untuk mengurangi radikal bebas yang bersifat merusak,” katanya. Pencegahan PADAM dan memperlambat penuaan dari dokter bisa dilakukan dengan memberikan obat untuk menekan kadar prolaktin yang meningkat dan menghambat progresivitas varikokel serta pengobatan prostatitis. Untuk hormon yang tidak dapat distimulasi, katanya, dalat dilakukan dengan cara substitusi hormon, seperti hormon DHEA, melatonin, GH dan IGF-1 dan substitusi hormon testoteron. Peremajaan bisa dilakukan dengan stimulasi hormon endogen, meskipun obat ini sudah dijual bebas tetapi perkembangannya masih menunggu perkembangan selanjutnya karena hasilnya masih meragukan. “Stimulasi produksi testoteron dengan hCG terhadap 290 pasien di Semarang menunjukkan hasil sangat bagus, dari delapan injeksi selama satu bulan, menghasilkan peningkatan libido, kemampuan bekerja, semangat hidup dan mengurangi kecemasan serta keluhan lainnya,” katanya. Ketika ditanyakan berapa dana yang dibutuhkan pasien yang ingin mengembalikan vitalitas hidupnya seperti di masa usia produktif, Susiso Wibowo secara terbuka menyebutkan Rp1,8 hingga Rp2 juta per bulan. “Namun biasanya setelah ditangani satu bulan hasilnya sudah kelihatan dan lebih sempurna lagi bila menjalani perawatan selama tiga bulan,” katanya Perubahan mental dan fisik pria yang menuju penuaan, katanya, antara lain ditandai dengan gejala muda lupa, berkurangnya reflek, kehilangan gairah hidup, sering mengantuk tapi sulit tidur, kadang otoriter bahkan bertindak aneh dan lainnya. Perubahan fisik ditandai dengan berkurangnya kelenjar ludah, sering kesulitan menelan makanan, perubahan pada mata, telinga, dan hidung dan tentu saja mulai tampak keriput. Penuaan pria juga ditandai dengan keluhan di bidang seksual seperti penurunan libido, ereksi kurang keras, penis mengecil, pancaran ejakulasi lemah, frekuensi hubungan seksual menurun dan kurang responsif terhadap percakapan, rangsang dan stimulus seksual. Keluhan lain yang bersifat lebih umum juga melanda pria tua, seperti gelisah, sulit tidur, cemas, nyeri kepala, sering kencing, takut, perasaan tidak mampu. Susilo menyebutkan, penyebab penuaan itu adalah faktor lingkungan dan psikis seperti pencemaran lingkungan, pemakaian obat dan jamu yang tidak terkontrol sehingga menyebabkan penurunan hormon tubuh, stress dan sinar matahari langsung yang menyebabkan hilangnya elastisitas dan rusaknya kolagen kulit. (sm)

Read Full Post »

MENOPOUSE pada pria tanda-tandanya apa sih? Pertanyaan seperti itu memang wajar, sebab pria nampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda seperti wanita. Kalau wanita kan sudah jelas, menstruasi yang setiap bulan dialaminya akan otomatis berhenti. Jika perempuan mengalami menopause, apakah para lelaki juga mengalami hal yang sama? Ternyata pendapat dokter-dokter mengenai masalah ini masih saling silang. Walau demikian, kelompok dokter yang tergabung dalam Masyarakat Andropause (kelompok yang mengakui bahwa lelaki juga mengalami menopause) mengingatkan para lelaki yang sudah berada pada usia pertengahan agar menerima terapi hormon untuk mengatasi andrapause ini. Dokter Malcom Carruthers, ketua Masyarakat Andropause mengatakan, keadaan para lelaki seperti ini harus diakui dan diperlakukan seadil mungkin, sebagaimana para perempuan yang menopause. Dokter ini juga mengemukakan mengenai jumlah anggota di kelompoknya yang sudah mencapai sekitar 100 anggota di seluruh dunia. Masyarakat yang dipimpin Dr. Carruthers menginginkan agar lelaki diperlakukan sama dan adil. Berdasarkan pada kenyataan yang terjadi sekarang ini, sikap dokter terhadap lelaki yang andropause kurang bijaksana. “Jika para perempuan menerima terapi pergantian hormone (HRT), perhatian dan perawatan, tetapi kaum lelaki hanya diberitahu bahwa perubahan yang terjadi pada mereka karena faktor usia dan karena dipresi,” kata Carruthers. Menopause lelaki biasanya terjadi pada usia sekitar 30an dan 50an. Gejalanya hampir sama dengan menopause perempuan yaitu berkeringat pada malam hari, kekurangan tenaga, cepat marah dan kehilangan libidonya. Perubahan ini bisa mempengaruhi perkawinan dan pekerjaan mereka. HRT untuk lelaki sebenarnya ada, tetapi para dokter banyak yang tidak mau memberi resep untuk obat ini. Andropause ini bisa terjadi pada semua lelaki, jadi jangan takut menghadapinya. Dr Carruthers memperkirakan ada sekitar 50% lelaki yang berusia sekitar 50 tahunan yang terkena andropause. Ia melakukan tes terhadap penderita yang mungkin terkena andropause dengan mengukur tingkat testoterone. Jika rendah maka mereka diberi terapi HRT. Menurutnya, jika perempuan dapat mengakses HRT, kenapa lelaki tidak? Tetapi memang lelaki kadang suka menutup-nutupi penyakitnya, sehingga mungkin inilah salah satu penyebab mengapa andropause tidak terlalu dikenal secara luas. Sebenarnya mereka tidak perlu taku, kata Dr. Carruthers. “Kita memiliki populasi yang terdiri dari lelaki yang sudah berumur, dan sangat penting untuk mengatasi gejala-gejalan andropause dan membuat kondisi fisik dan psikis sehat,” katanya menambahkan. Sementara itu Dr. Ian Banks, ketua Forum Kesehatan Lelaki, mangatakan ragu akan adanya menopause pada lelaki. ” Banyak sekali alasan mengapa lelaki merasa seperti itu pada usia mereka yang mencapai setengah baya. Kebetulan saja terjadinya bersamaan dengan usia seorang perempuan mengalami menopause,” katanya. Jika hanya menyalahkan pengaruh itu akibat dari tingkat testosterone, tampaknya itu terlalu menyederhanakan. Tetapi memang ada beberapa lelaki yang membutuhkan terapi testosterone. Demikian Dr. Banks menambahkan. (sm)

Read Full Post »

Sebagian orang menganggap datangnya menopause sebagai berakhirnya masa menyenangkan dalam hidup. Proses alami yang dilalui setiap perempuan itu dipandang sebagai pertanda menjadi tua dan memudarnya kecantikan seseorang. Apalagi datangnya menopause ini diiringi sejumlah gejala yang mengganggu.

Kecemasan akan tibanya masa menopause ini juga dirasakan Ny Euis (50), warga Bekasi. Rasa takut menyergap, termasuk khawatir akan kehilangan suami lantaran gairah seksual menurun dan kecantikan memudar. “Tiap kali suami bilang kalau saya mengalami gejala menopause, saya rasanya mau menangis,” tuturnya. Melewati usia 45 tahun, sebagian perempuan memang telah mengalami gejala pra-menopause.

Ny Endang (49), misalnya, mengaku masih mendapat haid, tetapi datangnya tidak lagi teratur. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terjadinya berbagai penyakit yang banyak menyerang perempuan menopause, seperti keropos tulang, kanker usus besar, dan penyakit lain. Berbagai gejala yang menyertai datangnya menopause memang cukup mengganggu, sebagaimana dialami Ny Suci Rohayati (55), warga Depok. Di usia 50 tahun, ia mulai mengalami sejumlah gejala pra-menopause. Hal ini ditandai dengan haid yang datang tidak teratur. Dalam satu bulan, ia kadang mendapat menstruasi hingga dua kali. “Saya jadi sering merasa panas, kalau pulang kantor banyak berkeringat dan cepat emosi,” ujarnya. Meski mengganggu, bagi ibu dari tiga anak ini, menopause merupakan hal biasa dan tak perlu dicemaskan. Karena itu, kendati telah memasuki masa menopause, ia tidak mengurangi aktivitas sehari-hari. Selain bekerja di sebuah departemen pemerintah, ia rajin berolahraga secara teratur untuk menjaga kebugaran. Namun, belakangan ia mulai menderita nyeri pada persendian, telapak kaki sakit, dan susah tidur. “Setelah berkonsultasi dengan dokter, saya disarankan agar tidak lagi senam aerobik karena bisa mendorong terjadinya nyeri persendian dan berisiko terjadi patah tulang. Oleh karena itu, saya menggantinya dengan berlatih senam menopause secara rutin,” kata Ny Suci. Ia pun secara berkala memeriksakan kesehatannya, termasuk mammografi, untuk menghindari berbagai penyakit degeneratif. Berhentinya menstruasi ini juga mengurangi gairah seksualnya. Beruntung hal ini tidak sampai mengganggu keharmonisan rumah tangganya. “Saya dan suami telah menikah selama puluhan tahun dan sudah mengalami puncak aktivitas seksual. Sekarang kami telah sama-sama tua, dan menjadikan pasangan sebagai kawan bicara,” tuturnya.

Mengganggu

Menopause kini jadi perhatian. Padahal, semula isu tentang menopause kurang mendapat perhatian dari semua pihak, termasuk kaum hawa. Hal ini disebabkan umur harapan hidup perempuan di dunia makin panjang. Pada tahun 2030, jumlah perempuan di dunia yang memasuki masa menopause diperkirakan mencapai 1,2 miliar orang.

Saat ini Indonesia baru mempunyai 14 juta perempuan menopause. Namun, menurut proyeksi penduduk Indonesia tahun 1995-2005 oleh Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk perempuan berusia di atas 50 tahun adalah 15,9 juta orang. Bahkan, pada tahun 2025 diperkirakan akan ada 60 juta perempuan menopause. Menopause sesungguhnya merupakan hal yang secara alamiah akan dialami tiap perempuan. Menurut National Institutes of Health, Amerika Serikat, menopause merupakan tahap akhir proses biologi yang dialami wanita berupa penurunan produksi hormon seks perempuan, yakni estrogen dan progesteron dari indung telur. Seseorang disebut menopause jika tidak lagi menstruasi selama 12 bulan atau setahun. Hal ini umumnya terjadi ketika perempuan memasuki usia 48 hingga 52 tahun. Sebagaimana permulaan haid, akhir menstruasi juga bervariasi antara perempuan yang satu dan lainnya.

Perokok cenderung mencapai menopause lebih cepat daripada perempuan bukan perokok. Menstruasi akan terhenti lantaran fungsi indung telur mulai menurun. Setelah menopause, indung telur tetap memproduksi estrogen, tetapi dalam jumlah sangat kecil. Karena indung telur merupakan pabrik penghasil sel telur, penurunan fungsinya diikuti berakhirnya pelepasan sel telur yang terjadi tiap bulan pada wanita usia subur. Seiring berkurangnya estrogen dan progesteron, terjadi berbagai perubahan secara fisik maupun psikis. Kulit mulai mengering, elastisitas otot berkurang, termasuk dinding vagina mulai menipis dan mengering, sehingga rentan terkena infeksi. Kekurangan estrogen juga menyebabkan tulang jadi tipis dan mudah patah (osteoporosis). Penurunan estrogen menurunkan pula kadar lemak densitas tinggi, yaitu kolesterol baik, yang berfungsi membersihkan pembuluh darah dari timbunan kolesterol buruk. Sebaliknya, kadar kolesterol buruk dan total kolesterol meningkat sehingga mempertinggi risiko stroke dan serangan jantung.

“Perempuan menopause terancam osteoporosis, jantung koroner, kanker usus besar,” kata Frizar Irmansyah, dokter spesialis kandungan. Perubahan fisik yang terasa dan menimbulkan rasa tidak nyaman adalah semburan panas dari dada ke atas diikuti banyak berkeringat. Keluhan lain yang terasa adalah nyeri saat berhubungan intim, jantung berdebar-debar, susah tidur, sulit menahan kencing, dan sakit kepala. Juga pegal-pegal, merasa tertekan, lelah psikis, lelah somatik, susah tidur, merasa takut, pelupa, merasa tidak dicintai, dan depresi. Tidak semua perempuan mengalami gejala menopause yang sama. Menurut Ichramsjah, guru besar pada Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, gejala yang dialami hampir setiap perempuan adalah gelisah, takut, pelupa, pemarah, nyeri tulang belakang, dan libido menurun. Adapun gejala yang tidak selalu dialami perempuan adalah semburan panas.

Terapi menopause

Untuk menghindari terjadi komplikasi penyakit, hal ini perlu diantisipasi sejak perempuan berusia 45 tahun. Sayangnya, banyak perempuan tidak menyadari dirinya menopause lantaran tidak memiliki cukup informasi. Akhirnya mereka mengobatinya secara simtomatis untuk menghilangkan gangguan yang dirasakan. Mereka kemudian minum obat sakit kepala karena merasa pusing. Padahal, meminum berbagai obat simtomatis memiliki efek samping ke ginjal. Karena penyebab utamanya adalah kekurangan estrogen, penyembuhan paling tepat adalah menambahkan hormon estrogen dari luar ke dalam tubuh.

Ada dua jenis estrogen dari luar tubuh yang bisa dipakai, yakni hormon estrogen yang berasal dari tumbuhan (fitoestrogen) dan hormon yang dibuat pabrik. Salah satu cara yang ditawarkan dunia kedokteran adalah terapi sulih hormon (TSH). Terapi ini mempunyai efek signifikan terhadap perempuan menopause. Setelah minum hormon, pasien akan merasa sehat dan nyaman, berbagai keluhan hilang, perempuan juga bisa kembali mendapatkan menstruasi, tidak lagi merasakan jantung berdebar-debar, pusing, atau merasa pegal-pegal. Namun, dalam perkembangannya, ternyata TSH berisiko menimbulkan kanker payudara, terutama pada pasien yang memiliki sejarah kanker dalam keluarganya. Risiko ini tidak terjadi pada tiap orang. “Untuk itu, pemakaian terapi ini sebaiknya benar-benar di bawah pengawasan dokter dan tidak disarankan bagi pasien dengan sejarah kanker. Bagi pasien tanpa sejarah kanker, bisa melakukan uji laboratorium setiap tahun,” kata Frizar. Bagi pasien yang tidak ingin mengikuti TSH, Frizar menyarankan mengonsumsi fitoestrogen yang banyak terdapat pada makanan Indonesia. Sumber estrogen berasal dari tumbuhan seperti bengkuang, kacang kedelai, pepaya, lidah buaya, dan semanggi. “Walaupun kekuatannya lemah jika dibandingkan TSH, namun fitoestrogen bermanfaat untuk mengurangi keluhan menopause karena cukup aman dan mudah didapat,” tuturnya.  

Pengelolaan diri perempuan menopause juga sangat penting untuk memaksimalkan kerja obat-obatan yang dikonsumsi. Motivasi diri ini harus timbul dalam diri pasien dan dapat ditempuh dengan cara berdoa, meditasi kesehatan, yoga, dan memakai metode hipnosis atau hipnoterapi. “Perempuan menopause dapat menjalani hipno-menopause terapi,” kata Stephanus P Nurdin, dokter dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Budhi Jaya. Metode hipnoterapi modern dengan orientasi kepada pasien ini bertujuan membuka kesadaran klien untuk mengetahui masalah utama sebagai dampak menopause dan membantu untuk menyembuhkan atau menyelesaikan masalahnya oleh dirinya sendiri. “Pasien jadi merasa lebih nyaman dan dapat menerima kondisinya, lebih percaya diri, sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari,” ujarnya. Dengan penerapan gaya hidup sehat dan terapi yang efektif, secara perlahan rasa kepercayaan yang hilang atau gejala lain yang dirasa mengganggu pun dapat diatasi. Akhirnya, kita pun bisa menjalani hidup menjelang maupun selama menopause. ***

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.